Pages Navigation Menu

Indonesian Online Blog

Film Barat Berhenti Beredar di Indonesia?

Bioskop Indonesia tidak lagi memutar film barat

Akhir-akhir ini, Indonesia cukup heboh oleh berita mengejutkan dari dunia perfilman Indonesia. Film barat berhenti beredar di Indonesia. Holywood, industri film yang terbesar di dunia ini dikabarkan untuk menghentikan peredaran produksi film mereka di indonesia. Padahal selama ini film asing merupakan salah satu pendapatan terbesar bioskop-bioskop Indonesia. Dengan kebijakan Holywood tersebut, artinya tidak akan ada lagi film asing yang akan diputar di Indonesia, sebagaimana pernyataan dari salah satu juru bicara 21 Cineplex saat konferensi. Tentunya hal ini sangat mengecewakan hati para masyarakat yang senang mengkonsumsi film-film asing ketimbang film Indonesia. Mungkin bukan hanya Holywood saja yang menghentikan peredaran film mereka di Indonesia, bisa juga film-film asing yang lain ikutan stop tayang di Indonesia. Mengejutkan? (bigeyes) tentu.

Alasan berhentinya peredaran film asing di Indonesia

Lalu mengapa Holywood memutuskan untuk menghentikan suplai film mereka di Indonesia? (thinking)

Menurut salah satu juru bicara 21 Cineplex, aksi mereka dilatarbelakangi kebijakan pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bea Cukai yang memberlakukan beban bea masuk atas hak distrimusi film impor. Ini artinya, pemerintah menambah beban biaya film asing yang ingin masuk ke Indonesia. Karena mulai Januari 2011, Direktorat Bea Cukai memberlakukan aturan baru mengenai bea masuk atas hak distribusi yang berarti, setiap film impor yang masuk ke Indonesia akan diperlakukan seperti barang impor lainnya. Kebijakan ini dianggap kurang bijaksana mengingat film tidak dapat dikategorikan sebagai barang. Sebagai informasi, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memberlakukan bea masuk untuk hak distribusi terhadap film impor. (hassle)

Peraturan distribusi Film impor

Masih menurut juru bicara 21 Cineplex, Noorca, menjelaskan bahwa ada 3 ketentuan produsen film asing yang ingin menayangkan filmnya di bioskop Indonesia :

  1. Mereka (distibutor film asing) harus membayar bea masuk barang berupa copy pita film ke Indonesia. Pajaknya berupa PPh dan PPn sebesar 23,75 persen dari nilai barang.
  2. Setelah ditayangkan dibioskop, mereka harus membayar PPh (Pajak Penghasilan) dari keuntungan eksploitasi film mereka yang diputar di Indonesia, dan
  3. Ketiga, produsen film tersebut juga ada beban pajak tontotan terhadap Pemerintah Kota atau Kabupaten. Besarnya 10 sampai 15 persen dari keuntungan penjualan tiket.

Akibat dari itu, maka selama pihak Dirjen Pajak tetap memberlakukan aturan pajak tersebut,  Hollywood tidak akan mengedarkan produksi filmnya di Indonesia. “Ini akan selama-lamanya, selama pihak Dirjen Pajak tidak lunak,” papar Noorca. (eyeroll)

Tentunya hal ini memicu pertentangan dikalangan masyarakat, karena ternyata pemerintah lagi-lagi mengambil keputusan yang mengecewakan banyak pihak. Lalu bagaimana menurut anda sekalian? (unsure)